Makan Enak dan Kenyang Sebelum Menulis

Menulis itu juga perlu refreshing dan bertemu orang. Jenuh melihat layar laptop yang biasanya melulu berisi huruf-huruf dan alur cerita

"Kata siapa Gunung Kidul itu kering dan gersang?"

"Sekarang sudah maju, ya?"

"Itu juga. Tapi, aku sedang ngomongin, sadar enggak kita berdua selalu dapat banyak rezeki saat main ke sana?"

Tiga minggu terakhir ini aku dan Mas Utroq Trieha sering banget ke Gunung Kidul. Datang ke resepsi, mengunjungi saudara dan saudara. Kalau resepsi tentu menjalin silaturahmi--silaturahmi juga rezeki, kan? Yang bertandang ke tempat saudara juga menjalin silaturahmi dan... banyak makan.
Beberapa menu di RUMAH MAKAN SEGER WARAS JL. WONOSARI
YOGYAKARTA

Kami di-bedholin tela yang enak banget--mempur dan... pomen enak banget! Katanya ketala margarin. Ketela kami bagi ke kawan-kawan yang mengadakan acara di Kebun Teh Nglinggo Samigaluh, Kulon Progo--kami berdua juga turut ke sana, ke teman-teman yang lain yang sepakat bahwa telanya memang enak. Juga aku makan sendiri. 

Berikutnya adalah ke saudara di RUMAH MAKAN SEGER WARAS di Jl. Wonosari km 19 (di sebelah kiri jalan arah jalan pulang dari atas). Pulang dari resepsi kemarin, kami mampir ke sini. Disuguhi burung dara dan puyuh bakar, nasi putih hangat, sambal terasi dan sambal bawang, dan terancam. 

Terancam ini mulanya disediakan untuk dimakan sendiri, tapi ada pelanggan yang tertarik memesan. Hingga sekarang kemudian trancam menjadi menu yang dicari-cari. 

Masku mulanya bilang enggak akan makan banyak, eh tapi kemudian makannya habis dan ngabisin nasi banyak. Enak, sih. :)

Nah, perut kenyang, perasaan bahagia karena habis liburan bersama, kembali ke pekerjaan menulis saat hari Senin pun tidak akan menjadi masalah.