4 Hal yang Harus Diperhatikan Jika Kamu Berprofesi Sebagai Penulis

Aku mencoba menulis semacam tips yang sebaiknya dimiliki dan dilakukan oleh penulis zaman sekarang. Poin-poin saran di sini enggak wajib dan enggak harus dilakukan, sih. Ini hanya sekadar sodoran pilihan. Dan sebenarnya masih banyak hal yang bisa ditulis, tapi empat ini saja dulu.


1. Rutin Olahraga dan Jaga Pola Makan

Tidak hanya penulis, di zaman sekarang yang pilihan kulinernya begitu membabi buta – tanpa diimbangi informasi menjaga kesehatan dan rutin olahraga yang seimbang, siapapun bisa dengan mudah terkena penyakit.

Beberapa hal penyakit yang dulu hanya menyerang usia tua, sekarang sudah menghinggapi usia muda, misalnya kolesterol, jantung, dan diabetes.

Penulis rentan sekali dengan penyakit ini. Terlebih jika waktunya bekerja lebih banyak digunakan untuk duduk di depan laptop. Konsumsi makanan enak yang berlebihan, minum soda, minum kopi, merokok yang tanpa diimbangi gerak tubuh cukup bisa membikin obesitas dan diabetes.

Jaga pola makan dan rutin olahraga mesti dan kudu dilakukan. Bisa dengan jogging atau senam dipandu video Youtube. Masukkan kata kunci workout atau fitness atau yang sepadan dan... tarraaa akan muncul banyak pilihan. Minimal 30 menit/hari, bisa setiap hari atau hanya akhir pekan. Yang penting bergerak.

Aku sedang enggak bicara hal terlalu tinggi, misalnya rajin olahraga bikin durasi ketahanan menulis lebih panjang ketimbang yang enggak. Dalam tulisan ini hanya ingin mengingatkan hal sederhana saja; jaga kesehatanmu.

2. Manajerial Mumpuni

Artinya, kamu  punya manajer. Manfaat manajer adalah mengatur waktu kerja penulis. Untuk aku yang lebih suka leyeh-leyeh ketimbang melulu menulis, hehe, kehadiran manajer bermanfaat sekali. Terlebih bila manajer menerapkan disiplin tinggi (baca: tips menulis dengan target).

Salah satu tugas manajer adalah membikin timeline menulis. Contohnya; dalam seminggu kamu harus menulis cerpen berapa kali dan dikirimkan ke mana saja, harus menulis novel apa saja dalam setahun sekaligus disusun tenggat waktunya, dan sesuai kebutuhan kamu yang lain sebagai penulis.

Bagiku kehadiran manajer sangat membantu melihat rencana jangka jauh dalam menulis. Dan, aku lebih memilih memiliki manajer. Kalau kamu punya kemampuan membikin timeline pekerjaan menulis, kehadiran penulis mungkin tidak begitu dibutuhkan.

3. Tidak Anti Media Sosial

Media sosial di internet itu tool, kan? Salah satu di antara banyak pilihan lain. Jadi, boleh dipakai boleh tidak. Antar satu penulis dan penulis lain tidak perlulah saling mencela pilihan masing-masing.

Kehadiran media sosial baik berupa Instagram, Youtube, Twitter, Facebook, Website, Blog dan masih banyak yang lain pergunakan dengan maksimal. Baik untuk mencatat proses kreatif maupun berpromosi.

Semacam kehadiran komputer sebagai ‘pengganti’ mesin ketik. Ada penulis yang memilih menggunakan komputer, ada yang bertahan menggunakan mesin ketik. Saat si penulis dengan komputer lebih produktif, lalu si penulis mesin ketik marah-marah dan merasa tak adil dan menyalah si penulis komputer... itu kan lucu.

4. Promo

Karena sekarang tidak seperti ’tipikal‘ penulis masa lalu yang hanya duduk di tepi jendela dengan tatapan menerawang lalu mendapat ide besar. Karena penulis sekarang juga tidak seperti masa lalu, saat buku terbit maka pekerjaan menulisnya selesai. Tidak.

***
Well, dari empat hal yang aku tulis di atas semoga bisa memberi masukan yang baik. Jenis penulis ada dua macam; melakoninya sebagai hobi – yang bila karyanya terbit dan dimuat di media massa maka disikapi dengan euforia berlebihan – dan penulis sebagai profesi – yang bekerja tidak hanya dengan hitungan jangka pendek, namun berjangka panjang ke depan.

Kalau kamu melakoni pekerjaan menulis hanya sebagai hobi, boleh banget empat poin yang aku tulis di atas diabaikan sepenuhnya. ;)