Kaffee Bitte | Desi Puspitasari
[Enjoy Mine] Keep on Smile, Keep on Smile.., 2013
[Enjoy Purpose] Yes, I wanna it.., 2016
[On Novel] The Strawberry Surprise, 2013
[Green Wall] Blink n Smile.., 2016
[Flying] Lets Go, Guys.., 2015
[Enjoy Hair] Yes, It's my hair, 2016
[With Teater Garasi] Kura-kura Bekicot - Naskah Eugene Ionesco, 2010
Baca Sastra --Kedai Kebun Forum Tirtodipuran, 2015
[On The Stage] Sendang Kakung n Putri, Kotagede, 2016
[On The Scene] Yes, Mine.., 2011
[On Romnantic] With MeineLiebe , 2016
[On Gear] Hitam dan Jingga, Kawanku.., 2015
[On Framing] Do You Serious? I do Serious.., 2014
[On The Stage] Kindly dont laugh me, please.., 2016
[On Book-Music] Ngayogjazz Sleman, 2015
[On The Stage] Come On Reading.., 2015
[On The Stage] Dont peep me, yaaa.., 2016
TUK Versi Teater Garasi, 2010

Selasa, 26 Maret 2019

[DIMUAT MARET 2019 - MAJALAH FEMINA] BEKER - DESI PUSPITASARI

Halo, ketemu lagi.

Di bulan Maret 2019 ini adalah satu cerpenku yang dimuat di Majalah Femina. Dan, iyap, jika ada yang bertanya: memangnya Majalah Femina masih terbit, ya? Jawabannya adalah masih. Kalau dulu majalah ini terbit mingguan, sekarang terbitnya bulanan.

Untuk cerpenku kali ini mengambil judul "Beker". Hal paling menjengkelkan biasanya terjadi saat aku lembur kerja sampai pagi, pas mau tidur malah keganggu beker tetangga yang kencengnya bukan main. Mending kalau segera dimatiin, biasanya yang dibekerin malah enggak bangun-bangun. Ya salahku sendiri sih, berangkat tidur di jam orang-orang sudah kudu bangun. 😁 Ketimbang marah-marah mending ditulis saja menjadi sebuah cerita.

Kan, begitu? 😀

Selamat membaca cerpen "Beker"-ku di Majalah Femina edisi Maret 2019. Uh-she-upp!

Nb: bagi teman-teman yang ingin belajar menulis, sila bergabung di kelas menulis desi. Yup, itu adalah kelas menulis yang aku ampu.

Informasi selengkapnya mengenai kelas menulis, sila klik saja bit.ly/kelasmenulisdesi atau klik di SINI. 

Senin, 04 Februari 2019

[Tips Menulis] Kirim dan Lupakan

Selain menulis dengan hati riang gembira -- atau gundah gulana kalau kamu sedang patah hati, hehe -- ada hal yang lain yang penting untuk dilakukan. Yaitu, mengirimkan karya tersebut --baik cerpen atau novel -- daaaan... 'lupakan'.

Banyak di antara kita, setelah selesai mengirim novel dan atau cerpen, lalu nggak ngapa-ngapain kecuali menunggu karya tersebut dimuat atau terbit. Padahal seharusnya bukan termenung-menung menunggu keajaiban yang harus kamu lakukan. Tapi, tetap produktif menulis. Ya iya, dong, pekerjaannya seorang penulis kan menulis. Ya, nggak? 😉

Masa Tunggu

Sebuah karya biasanya memiliki waktu tunggu. Memang ada cerpen yang dikirim belum ada seminggu sudah dimuat, tapi kebanyakan memiliki waktu tunggu. 

Sebuah cerpen memiliki masa tunggu dua minggu, sebulan, dua bulan, dan (biasanya) maksimum tiga bulan -- ada juga yang enam bulan atau setahun. 

Novel memiliki masa tunggu yang lebih lama lagi. Yup, masa tunggu novel dari dikirim sampai ada kabar diterima biasanya berkisar tiga bulan. Setelah ada keputusan naskahmu akan diterbitkan, akan ada masa revisi, editing, lalu lay out, menunggu desain kover, dicetak hingga akhirnya didistribusikan ke toko-toko buku. Menunggu dari pemberitahuan hingga siap dibeli pembaca, itu juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling cepat setengah tahun. Bisa lebih lama lagi. 

'Lupakan'

Betapa sayang waktu yang kita sia-siakan untuk menunggu. Menunggu kepastian cinta yang tak kunjung diucapkan si dia aja bikin jengkel, kan? - aih, halah -

Sebagai penulis, bila ingin produktif, setelah mengirim naskah, langkah berikutnya adalah 'lupakan'.  'Lupakan' di sini artinya jangan pernah memikirkan lagi naskah yang suda dikirim, tak usah berlarut-larut menunggu kapan mendapat kabar dimuat atau diterbitkan, lalu nggak ngapa-ngapain. 

Sumber gambar: pixabay
Hal yang harus kamu lakukan saat dalam fase 'lupakan' dalam menulis adalah: mulai pikirkan ide cerita yang baru, susun outline-nya, tulis ceritanya, selesaikan, lalu kirim. Setelah mengirim naskah kedua lalu apa? Yak, betul. 'Lupakan'. 

Dengan 'melupakan' naskah yang sudah ditulis, kamu nggak akan banyak membuang waktu percuma hanya untuk berharap. Seiring ketekunanmu menulis naskah yang tak henti-henti, tak ayal kamu bisa menjadi seorang penulis yang produktif. 

Daftar Naskah

'Melupakan' tentu tak berarti tak ada catatan apa-apa. Kamu harus tetap mencatat sebagai data. Misal, cerpen ini dikirim ke koran x pada tanggal sekian, cerpen itu dikirim ke koran y pada tangga sekian, novel ini dikirim ke penerbit x pada tanggal sekian, dan seterusnya. 

Dengan catatan lis naskah yang sudah kamu kirim, bila sudah masuk tenggat masa tunggu, kamu bisa mengecek ulang. Apakah cerpenmu yang itu sudah dimuat? Apakah novelmu yang ini sudah mendapat kabar dari penerbit? Bila belum, kamu bisa mengirim e-mail atau surel untuk menanyakan kabar tulisanmu -- untuk novel. Untuk cerpen, sebaiknya kamu benar-benar melupakannya untuk setahun. Tulis cerpen baru untuk dikirimkan ke media massa -- koran, misalnya. 

Untuk cerpen dan novel yang suda dimuat dan diterbitkan, kamu bisa mencoretnya dari daftar, atau memberi tanda: SUDAH DIMUAT atau SUDAH TERBIT. 

Nah, sudah siap menulis naskah, mengirimkannya ke media massa dan atau penerbit, lalu 'melupakan'nya dengan menulis naskah yang baru lainnya?

Bingung Memulai 

Sudah memahami betul tentang tips kirim dan lupakan, tapi sayangnya yang menjadi masalah adalah: bingung bagaimana harus memulai sebuah tulisan, baik cerpen atau novel. Tenang, ada jalan keluarnya, kok. Luangkan waktu serius untuk belajar, lalu bergabunglah di kelas menulis desi. Yup, itu adalah kelas menulis yang aku ampu. 

Informasi selengkapnya mengenai kelas menulis, sila klik saja bit.ly/kelasmenulisdesi atau klik di SINI

Rabu, 16 Januari 2019

Kelas Menulis Novel Desi Puspitasari


Yha, karena bergibah lebih asyik dan seru ketimbang menulis. Ya, kaaan?
Tapi, kita tidak akan melakukan perbuatan 'menyenangkan' itu di kelas menulis novel yang aku ampu 😂


Halo, Teman-teman. 

Aku membuka kelas menulis novel untuk pemula. Bagi Teman-teman yang ingin belajar menulis novel bisa banget bergabung di kelas privat ini.

Aku lebih senang bila kelas berlangsung secara tatap muka atau ketemuan langsung. Ketemuan langsung itu enak untuk penyampaian materi dan diskusinya. Tapi bila terhalang oleh jarak dan masih ingin sekali belajar, juga tersedia kelas menulis online (via WA dan atau surel)

Berikut ini kurang lebih materi-materi yang akan kita pelajari bersama untuk menulis cerpen (selengkapnya tentu saat sudah mengikuti kelas menulis): 
1. 5W 1H
2. Menyusun ide cerita - alur
3. Karakter - konflik
4. Riset - membuka cerita
5. Memilih gaya - sudut pandang
6. Struktur 3 babak - ending
7. Menyusun outline
8. Mengirim ke penerbit

Di kelas menulis ini akan ada materi, praktik, dan diskusi. Dan, ya, aku menekankan banyak praktik menulis. 

Biaya: kisaran Rp1.500.000,00/orang (satu juta lima ratus ribu rupiah) dibayarkan di muka.
Waktu belajar: 8 kali pertemuan - 3 jam/pertemuan
Kelas tatap muka: minimum 1 murid, maksimum 2 murid.
Kelas online: 1 kelas, 1 murid saja.
Hari Minggu libur.
Area Yogyakarta.

Untuk waktu belajar aku menyarankan sebaiknya dilangsungkan setiap hari tanpa terputus, misal: Senin - Sabtu. Tapi kalau tidak bisa, waktu dan hari bisa kita sepakati bersama.

CP: WA 0819-4636-8749.

Yuk, belajar menulis!

Novel-novel Desi Puspitasari antara lain: Jogja Jelang Senja (Grasindo), the Strawberry Surprise (Bentang Pustaka) sudah difilmkan dengan bintang Acha Septriasa dan Reza Rahadian -- official film trailer-nya tonton di SINI, Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku (Hikmah) sudah di-FTV Religi di Indosiar, 2009, Mimpi Kecil Tita (Republika Penerbit) nomine buku Islam terbaik kategori fiksi anak.


Sabtu, 12 Januari 2019

[Dimuat Januari 2019 - KOMPAS Nusantara Bertutur] Menanam Bibit Pohon Sengon

Rahasianya mengirim cerita anak untuk KOMPAS Nusantara Bertutur adalah memerhatikan tema setiap bulannya. Betul, tema cerita Nusantara Bertutur selalu ganti. Agar tak salah kirim dan mendapat kesempatan lebih besar untuk dimuat, sering-seringlah memeriksa di Fanspage-nya (klik)

Tema Januari 2019 adalah Jaga Hutan Kita. Aku mengirim naskah hari Rabu, 2 Januari 2019 dan naskah Menanam Bibit Pohon Sengon dimuat pada Minggu, 6 Januari 2019. 

Menulis cerita anak gampang-gampang sulit. Gampang karena cuma 400-an karakter, bila dibanding cerpen yang 1,400 karakter (atau kurang sedikit) atau novel yang 30.000 - 40.000 karakter. Tapi, karena pendek itulah justru letak kesulitannya. 

Selain itu menulis cerita anak juga... mau tahu? Ikut kelas menulisku saja, yuk, biar tahu bagaimana sebaiknya menulis cerita anak. Informasi mengenai kelas menulis bisa klik di siniEh--! Tapi, aku belum membuka kelas menulis cerita anak, dink. Baru kelas menulis cerpen, novel, dan naskah drama. (gimana, sih! -- pembaca ngomel-ngomel 😁)

Omong-omong, cerita anak Menanam Bibit Pohon Sengon - Desi Puspitasari yang dimuat di rubrik Nusantara Bertutur KOMPAS Minggu, 6 Januari 2019 sila dibaca di sini

Senin, 07 Januari 2019

Kelas Menulis Cerpen Desi Puspitasari



Nggak, kok. Kita nggak akan bergibah di kelas menulis yang aku ampu. 😂

Terkadang kita merasa punya banyak sekali ide yang bisa dijadikan cerita yang menarik, tapi saat akan ditulis semuanya jadi mampet. Terkadang pengin banget bisa menulis cerpen, tapi tidak tahu harus mulai dari mana dan harus ngapain. Terkadang ingin ini dan itu tapi.... 

Halo, Teman-teman. 

Aku membuka kelas menulis cerpen untuk pemula. Bagi Teman-teman yang ingin belajar menulis cerpen bisa banget bergabung di kelas privat ini.

Aku lebih senang bila kelas berlangsung secara tatap muka atau ketemuan langsung. Ketemuan langsung itu enak untuk penyampaian materi dan diskusinya. Tapi bila terhalang oleh jarak dan masih ingin sekali belajar, juga tersedia kelas menulis online (via WA dan atau surel)

Berikut ini kurang lebih materi-materi yang akan kita pelajari bersama untuk menulis cerpen (selengkapnya tentu saat sudah mengikuti kelas menulis): 
1. 5W 1H
2. Menyusun ide cerita - karakter - alur
3. Riset - konflik - sudut pandang
4. Membuka cerita - memilih gaya
5. Struktur 3 babak - ending
6. Mengirim cerpen ke media massa

Di kelas menulis ini akan ada materi, praktik, dan diskusi. Dan, ya, di sini aku menekankan banyak praktik menulis. 

Biaya: kisaran Rp950.000,00/orang (sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) dibayarkan di muka.
Waktu belajar: 6 kali pertemuan - 3 jam/pertemuan
Kelas tatap muka: minimum 1 murid, maksimum 2 murid.
Kelas online: 1 kelas, 1 murid saja.
Hari Minggu libur.
Area Yogyakarta

Untuk waktu belajar aku menyarankan sebaiknya dilangsungkan setiap hari tanpa terputus, misal: Senin - Sabtu. Tapi kalau tidak bisa, waktu dan hari bisa kita sepakati bersama.

CP: WA 0819-4636-8749.

Yuk, belajar menulis!


Copyright © 2010- | Viva | Kaffee Bitte | Desi Puspitasari | Daily | Portfolio