Monday, February 4, 2019

[Tips Menulis] Kirim dan Lupakan

Selain menulis dengan hati riang gembira -- atau gundah gulana kalau kamu sedang patah hati, hehe -- ada hal yang lain yang penting untuk dilakukan. Yaitu, mengirimkan karya tersebut --baik cerpen atau novel -- daaaan... 'lupakan'.

Banyak di antara kita, setelah selesai mengirim novel dan atau cerpen, lalu nggak ngapa-ngapain kecuali menunggu karya tersebut dimuat atau terbit. Padahal seharusnya bukan termenung-menung menunggu keajaiban yang harus kamu lakukan. Tapi, tetap produktif menulis. Ya iya, dong, pekerjaannya seorang penulis kan menulis. Ya, nggak? 😉

Masa Tunggu

Sebuah karya biasanya memiliki waktu tunggu. Memang ada cerpen yang dikirim belum ada seminggu sudah dimuat, tapi kebanyakan memiliki waktu tunggu. 

Sebuah cerpen memiliki masa tunggu dua minggu, sebulan, dua bulan, dan (biasanya) maksimum tiga bulan -- ada juga yang enam bulan atau setahun. 

Novel memiliki masa tunggu yang lebih lama lagi. Yup, masa tunggu novel dari dikirim sampai ada kabar diterima biasanya berkisar tiga bulan. Setelah ada keputusan naskahmu akan diterbitkan, akan ada masa revisi, editing, lalu lay out, menunggu desain kover, dicetak hingga akhirnya didistribusikan ke toko-toko buku. Menunggu dari pemberitahuan hingga siap dibeli pembaca, itu juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling cepat setengah tahun. Bisa lebih lama lagi. 

'Lupakan'

Betapa sayang waktu yang kita sia-siakan untuk menunggu. Menunggu kepastian cinta yang tak kunjung diucapkan si dia aja bikin jengkel, kan? - aih, halah -

Sebagai penulis, bila ingin produktif, setelah mengirim naskah, langkah berikutnya adalah 'lupakan'.  'Lupakan' di sini artinya jangan pernah memikirkan lagi naskah yang suda dikirim, tak usah berlarut-larut menunggu kapan mendapat kabar dimuat atau diterbitkan, lalu nggak ngapa-ngapain. 

Sumber gambar: pixabay
Hal yang harus kamu lakukan saat dalam fase 'lupakan' dalam menulis adalah: mulai pikirkan ide cerita yang baru, susun outline-nya, tulis ceritanya, selesaikan, lalu kirim. Setelah mengirim naskah kedua lalu apa? Yak, betul. 'Lupakan'. 

Dengan 'melupakan' naskah yang sudah ditulis, kamu nggak akan banyak membuang waktu percuma hanya untuk berharap. Seiring ketekunanmu menulis naskah yang tak henti-henti, tak ayal kamu bisa menjadi seorang penulis yang produktif. 

Daftar Naskah

'Melupakan' tentu tak berarti tak ada catatan apa-apa. Kamu harus tetap mencatat sebagai data. Misal, cerpen ini dikirim ke koran x pada tanggal sekian, cerpen itu dikirim ke koran y pada tangga sekian, novel ini dikirim ke penerbit x pada tanggal sekian, dan seterusnya. 

Dengan catatan lis naskah yang sudah kamu kirim, bila sudah masuk tenggat masa tunggu, kamu bisa mengecek ulang. Apakah cerpenmu yang itu sudah dimuat? Apakah novelmu yang ini sudah mendapat kabar dari penerbit? Bila belum, kamu bisa mengirim e-mail atau surel untuk menanyakan kabar tulisanmu -- untuk novel. Untuk cerpen, sebaiknya kamu benar-benar melupakannya untuk setahun. Tulis cerpen baru untuk dikirimkan ke media massa -- koran, misalnya. 

Untuk cerpen dan novel yang suda dimuat dan diterbitkan, kamu bisa mencoretnya dari daftar, atau memberi tanda: SUDAH DIMUAT atau SUDAH TERBIT. 

Nah, sudah siap menulis naskah, mengirimkannya ke media massa dan atau penerbit, lalu 'melupakan'nya dengan menulis naskah yang baru lainnya?

Bingung Memulai 

Sudah memahami betul tentang tips kirim dan lupakan, tapi sayangnya yang menjadi masalah adalah: bingung bagaimana harus memulai sebuah tulisan, baik cerpen atau novel. Tenang, ada jalan keluarnya, kok. Luangkan waktu serius untuk belajar, lalu bergabunglah di kelas menulis desi. Yup, itu adalah kelas menulis yang aku ampu. 

Informasi selengkapnya mengenai kelas menulis, sila klik saja bit.ly/kelasmenulisdesi atau klik di SINI

0 comments:

Copyright © 2010- | Viva | Kaffee Bitte | Desi Puspitasari | Daily | Portfolio