Home » » Mozarella

Mozarella

Cerpen Desi Puspitasari (Jakarta Beat, 2 Oktober 2014)



HUJAN baru selesai turun. Pagi mendung perlahan cerah. Kericih sisa air hujan jatuh dari talang terdengar jarang-jarang sebelum kemudian berhenti.

“Pus?” Thomas menegakkan tubuh.

Tak terdengar meongan sebagai sahut. Suasana rumah begitu hening.

Thomas melepas kacamata lantas menggosok dua pangkal matanya yang letih. Sambil menguap lebar ia kembali mengenakan kacatama. “Pus,” panggilnya lagi. Selepas subuh begini kucing bernama Mozarella—bila menggeliat badannya bisa begitu mulur seperti keju yang melapisi piza yang diangkat—biasanya akan menyahut dan menggosokkan kepala pada kaki Thomas.

“Kau bersembunyi? Atau… ha! Kau kabur dari rumah karena kecantol kucing jantan dan tinggal bersama di kolong jembatan… kau apa-apaan sekali.” Thomas kembali pada pekerjaan menulis.

Bel pintu berdering.

“Pak Bos Thauu… mas!” seru pengantar susu.

Thomas menengok jam. Sejak sif kerjanya berubah, Edi selalu mengantar susu tepat setelah subuh berganti menjadi pagi. “Susu baru, langsung dikemas, dan aku antar. Botol susunya saja masih hangat dan tentu rasa susunya segar!” Laki-laki jangkung kurus bergigi maju itu tidak bohong.

Thomas bangkit meraih beberapa gulung uang dalam stoples bening di meja dapur.

“Sauuu… su!” Edi menyerahkan pesanan ketika pintu dibuka.

“Masih saja mengantar tepat waktu padahal hari baru saja hujan.” Thomas menerima botol susu dan mengulurkan uang.

Edi menyimpan pembayaran dalam tas pinggang. “Ini namanya berdidikasi tinggi.”

“Dedi—dedikasi,” ralat Thomas.

“Yaa, didikansi.” Senyum Edi lebar. Ia pengantar susu paling ceria yang pernah Thomas kenal. “Sedang mengerjakan cerita baru? Kok, mukanya Pak Bos kusut begitu?”

Sejak mengetahui salah satu pelanggannya seorang penulis, Edi pernah memaksa meminjam buku karangan Thomas. Dua hari kemudian novel itu dikembalikan dengan pujian yang tidak tanggung-tanggung. “Cerita Pak Bos bagus bingits sampai aku enggak paham apa-apa.”

“Ya.” Thomas beranjak masuk.

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, ”Dan, sekarang aku harus segera menyelesaikan—kau tahu.”

”Tulisan. Pak Bos harus segera menyelesaikan tulisan. Tentu saja. Hoouu... ke, deh! Metpagi, ea!”

Thomas teringat sesuatu dan segera berbalik memanggil. “He, Ed! Edi!“

Edi menengok, kemudian berjalan mundur dengan gaya sengaja dibikin lucu.

“Ada lagi yang bisa aku bantu, Pak Bos?“

“Apa kau melihat kucingku?”

“Yang bulunya putih dengan sedikit oranye pada bagian punggung? Aku ingat pernah ketemu sama ntu kucing di suatu sore. Pak Bos ingat—tanganku dicakar sewaktu aku ajak kucing ntu salaman?”

“Kau melihatnya, Ed?”

“Iya! Sore itu! Beberapa bulan lalu!”

“Pagi ini?“

“Ha?“ Edi mendongak dengan raut mengingat-ingat. ”Beberapa minggu lalu, sih, aku lihat. Waktu aku nganterin susu ke tetangga sebelah. Katanya, cucunya mau nengok dan ia enggak mau nyuguhin minuman apel soda kaleng. Enggak sehat. Pak Bos kenal? Seorang pensiunan tentara yang hidup sendiri. Istrinya mangkat setahun lalu. Ia itu... ngegemesin bingits—maksudku, kucingmu yang ngegemesin bingits! Bukan si pensiunan tentara, ea!“

“Jadi, melihatku kucingku tidak?“ pasti Thomas.

“Kucingmu minggat?”

“Ia tidak biasa keluar rumah sepagi ini.”

“Si pensiunan tentara? Ya, ia memang selalu di rumah saja. Lagipula, tulang tuanya pasti enggak kuat menahan dingin kalau keluar pagi-pagi. Mending di rumah saja.”

“Kucingku.”

“Ah, iya!” Edi terkekeh. “Pak Bos cemas. Pak Bos sedang enggak mengira terjadi sesuatu yang berbahaya terjadi sama Morarela, kan? Nama aslinya siapa, sih? Sulit banget aku ngingetnya.”

“Kalau begitu terima kasih, Edi. Aku harus kembali. Kau silakan melanjutkan mengantar sus—”

Dari arah mulut gang terdengar decit rem yang diinjak tiba-tiba. Begitu keras dan mengagetkan. Thomas berhenti bicara, sementara Edi berhenti bergerak. Terdengar erangan keras.

“Kedengeran seperti... meong?“

Thomas meletakkan botol susu di mulut pintu dan bergegas menuju mulut gang. Di jalan depan sebuah sedan merah sedang dimundurkan lalu minggir berhenti dekat trotoar. Thomas berjongkok mengangkat kucing yang bersimbah darah. Napasnya kembang kempis, tertahan-tahan, tersentak-sentak, lalu kembang kempis kembali.

Seorang laki-laki gemuk bergegas mendekat. Sejenak ketika melihat Thomas raut mukanya sedikit berubah namun segera kembali pada ekspresi kaget dan menyesal. “Maaf. Aku tidak tahu ketika ia melintas. Apa ia –”

Thomas segera bangkit membawa Mozarella. Tangannya menjadi basah oleh darah. Laki-laki yang menabrak berteriak mengejar akan bertanggung jawab. Thomas tidak memperhatikan. Terus saja ia berjalan. Edi yang seharusnya mengantar botol susu berikutnya malah ikut berlari menyejajari Thomas.

“Aku tidak tahu harus berkata apa.” Laki-laki penabrak kucing berhasil menyusul hingga sampai rumah dengan napas ngos-ngosan. Ia melonggarkan kerah kemeja supaya dapat bernapas sedikit lega. “Aku kira jalanan lengang. Saya sedang terburu-buru menjemput teman di stasiun karena terlambat sedikit ia bisa mengamuk. Ah, aku akan membayar ganti rugi—kita bawa ke dokter hewan!”

“Tidak perlu.” Thomas memungut botol susu dengan tangan satunya. Edi buru-buru membantu melebarkan bukaan pintu. Thomas menutup pintu menggunakan kaki meninggalkan Edi dan laki-laki penabrak kucing berdiri menunggu.

“Sore.”

Bel pintu segera berdering. Thomas tak mengacuhkannya karena ia sedang memindah kucing yang sudah menjadi bangkai pada bak wastafel. Ia membasuh tangannya yang airnya ikut membasuh darah pada sekujur tubuh bangkai kucing. Bel pintu terus-menerus berdering.

“Aku hanya ingin memastikan.” Laki-laki gemuk itu masih mendekapkan dua telapak tangannya di depan dada.

“Sudah mati,” kata Thomas.

“Bukan. Bukan tentang kucing.” Laki-laki itu tertawa sungkan dan bersalah. “Apa Anda Thomas? Thomas si penulis buku ‘Larut Malam dan Semua Berjalan Tidak Sesuai Rencana’?” Laki-laki itu cepat-cepat menambahkan. “Novel itu bagus sekali. Aku terkesan pada setiap kata-katanya. Ah, luar biasa!”

Padahal angka penjualan novel tersebut buruk. Namun, Thomas diam saja. Sedangkan, Edi memberi tanda menggunakan tangan sambil berkata tanpa suara. ‘Jangan percaya. Kayaknya dia orang culas.’

Edi kemudian menyeringai menirukan wajah setan dengan semakin menonjolkan giginya yang tonggos.

Laki-laki itu menoleh. Edi berlari pergi. “Lanjut kerja dulu, ea, Pak Booos…”

“Ya,” kata Thomas. “Hati-hati di jalan, Ed. Jangan sampai tertabrak mobil ngawur—”

“Maafkan saya, Pak,” potong laki-laki itu. “Bagaimana bisa saya bertanggung jawab? Menabrak kucing kesayangan penulis favorit membikin saya merasa begitu bersalah.”

Thomas menutup pintu.

“Maaf, Pak. Saya hanya….” Secarik kartu nama diselipkan melalui bagian bawah pintu. “Hubungi saya bila Anda membutuhkan ganti biaya perawatan si kucing malang. Selamat masih pagi sekali.”

Si penabrak tidak mendengarkan; kucing sudah mati dan ia menawarkan biaya perawatan. Terdengar langkah kaki menjauh. Thomas memungut dan merobek kartu nama menjadi dua.

Telepon berdering. Siapa yang begitu kurang kerjaan menelepon sepagi ini? Betapa pagi yang sibuk!

“Hai,” sapa Thomas setelah mengangkat gagang telepon kuning kusam.

“Hai, Thomas!” balas suara ceria di seberang. “Apa aku mengganggumu?”

“Tidak,” sahut Thomas pendek. Tidak mengganggu, tapi ia lebih senang bila gadis itu tidak menghubunginya sekarang.

“Aah, pasti mengganggu. Karena kau sekarang sedang menuang susu dalam mangkuk untuk sarapan si Mozarella. Begitu? Tentu saja sekarang aku mengganggumu—meong, meooong...”

Thomas memperhatikan wastafel.

“Thomas?“

“Ah, ya. Maaf.”

“Kenapa minta maaf?“

“Tidak tahu.” Thomas menggosok tengkuk.

“Thomas, baiknya kita bicara langsung saja ke pokok pembicaraan; aku rindu padamu.” Perempuan di seberang menguap. “Mau bertemu! Aku mau bertemu Thomas!”

“Bukannya kau sedang bepergian ke luar kota? Sudah pulang?”

“Sudah, Thooomas.... Aku sudah pulang! Jadi, ayo ketemu!”

“Kapan datang?”

“Beberapa jam lalu dan temanku belum juga datang menjemput.” Suaranya bersungut-sungut.

“Pulang mengasolah terlebih dulu.” Thomas meregangkan punggungnya yang letih. “Aku sedang banyak pekerjaan.”

“Tidak mau.”

“Bagaimana dengan besok?”

“Tidak mau.”

“Sebenarnya aku sedang tidak bisa ke mana-mana.”

“Tidak boleh. Aku mau bertemu sekarang. Kan, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kangen.... Thomas tahu—”

“Tidak.”

“Tunggu dulu! Jangan dijawab ‘tidak’ terlebih dulu.” Perempuan itu berseru sambil mengikik. “Aku lanjutkan ceritaku dulu. Terakhir kali kita bertemu kau bercerita mengenai kura-kura Brazil kena pilek. ‘Jangan lupa mengalungkan syal di leher kura-kura sehingga kau tahu arti kata turtle neck yang digunakan pada sweater—’”

“Maja,” panggil Thomas.

“Ya?”

“Aku sedang merebus air. Tuit-tuit suara cerek berpeluit—“

“Ha! Airnya mendidih. Kau harus mematikan kompor.”

“Ya.”

“Kau hendak membikin kopi! Kau menyesap kopi dengan Mozarella minum susu di dekat kakimu. Kalian kiyut sekali.”

“Maja –”

“Ya!“ sahut Maja cepat. “Kau boleh menutup telepon. Kita bicara lagi nanti, ya?” Thomas hendak meletakkan gagang telepon—

“Thomas!”

Thomas mendekatkan mulut pada horn tempat bicara; “Ya.” Telepon ditutup.

Kembali menuju wastafel, Thomas menyalakan keran. Bangkai yang mulai kaku didorong hingga tepat di bawah

‘Aku memang ceroboh. Apa yang harus kukatakan untuk menjelaskan? Maaf, kucingmu... gepeng. Terlindas mobil. Yah, aku memang bukan makhluk penyayang—ceroboh tepatnya. Dan, sekali lagi, maaf, kucing ini—aku bahkan tidak tahu kapan dan bagaimana ia berhasil menyelinap keluar. Kupikir aku telah mengunci semua pintu.’

Thomas mematikan keran, mengangkat kepala, dan menatap bayangannya sendiri yang terpantul dari cermin yang menempel di dinding di atas wastafel.

‘Maaf, tidak bermaksud menyepelekan masalah ini, tapi bolehkah aku bilang kalau aku—’

Ia membungkus bangkai kucing menggunakan handuk kering bersih yang segera kemudian menjadi basah. Berbekal sekop kecil, ia keluar menuju halaman samping dan berjongkok mengeruk tanah.

“Semoga kau mendapatkan kehidupan yang lebih baik di alam sana, Pus. Malaikat akan memberimu tongkat penyangga tubuh atau malah tulang yang kembali utuh.” Ia mencemplungkan buntelan ke dalam lubang dan kembali menguruk tanah. “Tuhan menyayangimu.”

Thomas termenung sekali lagi mengamati gundukan baru sebelum masuk ke rumah. Telepon berdering.

“Sibuk sekali, eh?” sambar Maja begitu Thomas menerima panggilan pada dering berikutnya. “Bagaimana sore nanti? Eh, tidak. Pukul sembilan pagi ini saja. Aku tidak sabar ingin bertemu.”

Thomas juga ingin bertemu. Perihal kucing mati ini harus ia bicarakan. Tapi...

“Thomas!” Maja tidak sabar.

“Aku masih harus menyelesaikan tulisan.”

Hening lama.

“Kalau hujan sudah reda, ya.” Thomas melembutkan suara.

“Sekarang sudah reda….”

“Mungkin nanti akan hujan lagi.”

“Sudah reda...”

Thomas memutus obrolan dengan mengembalikan gagang telepon ke tempat semula—ia tidak tahu mengapa melakukan hal tersebut. Telepon segera berdering kembali.

“Kita bertemu di halaman depan perpustakaan,” kata Maja cepat. “Satu jam lagi.”

“Apa?”

“Bertemu, Thomaaas...” Maja merajuk panjang. “Kita bertemu sejam lagi, ya.”

“Dua jam lagi.”

Maja kembali mengeluh panjang. Namun, kemudian suaranya menjadi renyah dan ceria kembali. “Okelah.”
Sambungan telepon dimatikan. Thomas mendekat ke arah jendela. Gundukan tanah tidak beraturan bagian tengahnya kini sedikit melesak terkena gerimis.

***

SAAT itu Desember. Matahari masih bersinar sebagaimana biasanya. Namun, hujan kembali turun. Seorang laki-laki melompat turun dari bus dan bergegas berlari masuk menuju ke halaman depan sebuah perpustakaan. “Hujan yang sedikit menyusahkan.”

Maja dalam mantel hijau hangat tersenyum. “Iya.”

Thomas bersin.

“Dingin?”

“Tidak. Aku kepanasan. Ini basah hanya karena keringat.”

“Kau pandai bercanda.”

Thomas melepas kacamata, menggosoknya pelan menggunakan bagian dalam kausnya yang kering, lalu mengenakannya kembali. “Kau tadi membaca buku apa?”

“Eh? Aku tidak membaca buku apa pun selama beberapa bulan terakhir ini.”

“Kau mengajak ketemu di perpustakaan... aku kira kau sedang membaca buku atau bagaimana.”

“Hm. Iya, sih. Hm. Sebenarnya aku sedang berusaha membaca Snow. Orhan Pamuk. Sulit sekali untukku menyelesaikannya. Rasanya ingin mengantuk setiap kali harus membaca paragraf-paragraf raksasa itu. Ah—maaf! Tidak seharusnya aku mengatakan kalimat itu apalagi di depanmu.”

“Mengapa?”

“Kau, ‘kan, penulis.”

Dengan penjualan buku kurang layak.

Penerbit sekarang hanya menganggap seorang penulis adalah benar-benar penulis bila bukunya laris. Buku bagus akan berumur pendek, buku buruk bahkan bisa bertahan berabad-abad lamanya. Ini kemudian yang menjadi penghiburan Thomas: bukunya tergolong dalam buku bagus—tidak laris dan berumur pendek.

“Wajahmu menjadi muram begitu. Apa aku telah mengatakan sesuatu hal yang salah?” Maja terlihat begitu menyesal.

“Tidak. Lanjutkan saja ceritamu mengenai Orhan Pamuk.”

“Aku pikir akan menjadi masalah bila aku mengatakan hal yang sebenarnya; tidak membaca satu buku pun selama beberapa bulan terakhir dan... mengantuk saat menyelesaikan Pamuk.”

“Sejak kapan sebuah keterusterangan menjadi suatu hal yang mengganggu?”

“Kau, ‘kan, penulis.”

“Apa hubungannya dengan pekerjaan menulis?”

“Kupikir kau akan tersinggung.”

“Itu penjelasanmu mengenai hubungan sebuah keterusterangan yang akan menyinggung perasaan seorang penulis?”

“Kau marah, ya?”

“Jangan membelokkan pembicaraan.”

“Tidak.”

“Apa aku terlihat... atau terdengar sedang marah padamu?”

“Ya, tidak. Hanya saja... rasanya kan tidak enak kalau kita menunggu hujan reda dalam kondisi salah satu dari kita sedang menahan kesal karena marah. Aku hanya ingin bertemu setelah pulang dari luar kota. Kupikir, daripada aku bosan di rumah sendirian, kita bertemu dan berbicara tentang banyak hal. Kau tahu terakhir kali kita ketemu, kau bercerita mengenai kura-kura Brazil yang terkena pilek, kau bilang, jangan lupa kalungkan syal di sekitar lehernya. Nah, sekarang kau jadi tahu apa arti kata turtleneck, kan?” Maja tertawa. 

“Ups, aku mengulang cerita.”

“Aku kemarin bertemu temanku. Dia terlalu banyak bicara. Ia mirip denganmu—maksudku, memiliki penilaian-penilaian tertentu terhadap profesi penulis. Ia mengira setiap penulis tentu akan merasa bahagia ketika mendengar bermacam-macam cerita dari setiap orang yang ditemuinya—kebanyakan orang memang selalu berpikir demikian. Temanku itu lupa bahwa ada waktu tertentu bagi penulis untuk ingin sendirian, bermain dengan pikiran, atau bahkan mungkin ia sedang memiliki masalah. Dia, temanku itu, laki-laki.”

“Asyik, Thomas mulai bercerita!” seru Maja senang.

“Baiklah. Akan aku ceritakan sedikit padamu. Bisa kau bayangkan dirimu sedang berada dalam posisiku?”

“Ya... bisa saja.”

Laki-laki itu membetulkan letak duduknya. Hujan di luar belum berkurang sedikit pun. Malah sedikit deras daripada sebelumnya. “‘Aku memiliki banyak masalah, Teman. Dan kupikir kau akan senang mendengarnya. Mungkin bisa jadi sumber inspirasimu menulis cerita, bukan? Kau mendengarkanku?’”

“Iya.”

“Aku tidak bertanya padamu—maksudku, temanku itu yang bertanya demikian.”

“Iya.”

“Aku lanjutkan ceritanya.”

“Oke.”

“‘Awal mulanya hanya sebuah kecelakaan kecil. Terpeleset di kamar mandi. Memar dan linu di bagian ekor tulang belakang. Tidak ada perlu yang dipermasalahkan. Paling-paling ngilu ketika harus duduk di kursi kayu. Seperti duduk di bangku kayu sewaktu kita kuliah dulu. Kau ingat—gedung tua, jendela warna abu-abu membosankan, dan bangku kayu.’”

“Dan tulang ekor itu?”

“‘Tidak perlu dipijat. Biarkan saja. Tapi tidak lama, pinggang itu mulai bertingkah aneh. Berderit seperti engsel pintu yang kurang minyak. Semacam keriat-keriut. Lalu, nyeri di pinggang itu menjalar hingga ke lutut! Aku tidak mau tahu bagaimana caranya. Dan saat akhir pekan, dengan lutut gemetaran macam unggas hendak disembelih, paman dari pihak ibuku itu nekat mengendarai mobil di tengah hujan dan kabut lebat.’”

“Tunggu sebentar. Paman? Jadi ini yang menderita lutut gemetaran itu—?”

“Aku juga tidak mengira bahwa ia bercerita mengenai pamannya. Aku juga mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu, ia bereaksi kaget dengan berlebihan. ‘Apa? Astaga! Kau kan tidak mengira aku yang menderita pinggul geliyat-geliyut itu!’”

Maja tertawa.

“Kenapa tertawa?”

“Tidak. Tidak apa-apa. Lanjutkan ceritamu.”

“Sampai mana aku tadi?”

“Pinggul geliyat-geliyut.” Perempuan itu tertawa lagi.

“‘Jadi kau mengira aku yang menderita pinggul soak itu? Tentu saja tidak! Dan begitulah, ketika paman Al mengendarai mobilnya—’”

“Paman Al? Pamannya bernama Al.”

“Iya, pamannya bernama Al. ‘Jadi, waktu paman Al mengemudi mobil di tengah kungkungan badai hujan, ban mobilnya selip. Tentu saja! Kabut tebal itu menghalangi pandangan. Ban mobilnya melindas kulit pisang! Entahlah—atau kulit apalah. Siapapun tidak akan mengira masih ada orang bodoh yang membuang kulit buah sembarangan.’”

“Iya.” Perempuan itu mengangguk setuju.

“‘Nah. Mobil itu jatuh terguling. Dan aku terlalu ngeri menceritakan apa yang terjadi selanjutnya. Paman Al akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Dan coba tebak—dia harus menjalani operasi lutut! Oh-oh! Kau lihat, betapa hidup sungguh membingungkan! Maksudku, dia terpeleset di kamar mandi dengan pinggang bermasalah hingga akhirnya menjalar hingga ke lutut. Beberapa bulan kemudian dia mengalami kecelakaan. Operasi lutut, dua belas jahitan, dan tongkat penyangga! Hingga akhirnya lutut cedera yang dibebat perban kuat-kuat! Bagaimana menurutmu?’”

“Temanmu itu terlalu banyak bicara.”

“Begitulah. Lalu, ia bertanya mengenai pekerjaanku sekarang.”

“Lalu?“

Thomas mengangkat bahu. “Aku jawab: penulis. Lalu dia mengernyitkan dahi. Kemudian, ia tertawa. Katanya, kau pasti senang mendengar ceritaku mengenai Paman Al barusan!”

“Apa hubungannya?”

“Hm.” Thomas berpikir keras. Mencari cara bagaimana menyampaikan cerita dengan tepat. “Lalu temanku itu bertanya padaku: kau tidak senang mendengarkan ceritaku barusan? Kau bermuka gusar hari ini. Sedang ada masalah?’”

Perempuan itu menoleh.

Laki-laki itu berpaling ke arah depan. Berpura-pura memandang deras hujan yang tidak segera mereda. 
“Aku bilang—aku bilang padanya: kucingku mati terlindas mobil pagi sekali tadi.”

“Eh? Benarkah? Kucingmu mati terlindas mobil?”

Thomas tidak segera menjawab. “Aku pikir dengan berkata demikian dia akan segera pergi atau bagaimana. Tapi ia malah tertawa. Katanya: tidak ada hal yang paling lucu di dunia ini selain kucing gepeng yang mati terlindas mobil.”

“Selera humor temanmu buruk sekali!”

“Aku pikir juga begitu.”

“Sebenarnya temanmu itu mau bercerita apa? Masalahnya atau masalah paman Al? Di awal tadi dia bilang: aku memiliki banyak masalah, tapi sepanjang bicara ia malah bercerita  panjang lebar tentang musibah lutut paman Al.”

“Kau benar.”

“Dan—” Maja melemparkan pandangan menyelidik. “Kucing yang mati terlindas mobil.”

Thomas menekan buku-buku jarinya hingga berbunyi. “Kau ingat kalimat: untuk mengetahui apa seseorang itu termasuk manusia penyayang atau tidak... lihat dari berapa lama hewan peliharaannya bertahan hidup?”

“Itu kalimatku. Kalimat yang kukatakan sebelum aku menawarkan si Pus untuk kau pelihara. Lalu kau balas bertanya, bagaimana kalau seseorang itu tidak memiliki peliharaan. Aku menjawab, aku akan memberimu satu.” Perempuan itu berhenti sebentar, memberi jeda. “Jadi, ini ada hubungannya dengan si Pus—Mozarella!”

“Iya.”

“Apa yang terjadi dengannya? Oh. Dia tertabrak. Dia mati tertabrak? Seperti ceritamu tadi? Seperti jawaban untuk temanmu atas pertanyaan kenapa bermuka gusar? Jadi kucing mati terlindas mobil itu tidak hanya sekadar cerita rekaan?”

Hening sebentar.

“Sebagian besar cerita fiksi berangkat dari kenyataan. Beberapa memang tidak—tapi, ya. Aku tidak mengarang-ngarang bagian kucing itu tadi. Sebenarnya aku tadi sedang berusaha keras mencari cara terhalus untuk memberitahumu,” kata Thomas hati-hati.

“Oh! Memberi tahu apa? Bahwa si Pus mati terlindas hingga gepeng. Bagus sekali!”

“Sepertinya aku lupa menutup lubang di bagian bawah pintu belakang. Dia menelusup keluar. Aku sebenarnya juga tidak ingin hal seperti ini terjadi—”

“Apa cerita tentang Paman Al itu sebuah rekaan? Atau apakah itu salah satu cerita pendek yang sedang kau tulis sekarang?”

“Aku tidak akan memberitahumu.”

Maja menipiskan bibir. “Tiba-tiba aku ingin pulang. Kau tahu, aku baru saja pulang dari luar kota, dan sepertinya tubuhku terasa lelah luar biasa. Berada di rumah menghabiskan sore hingga keesokan hari sepertinya akan terasa menyenangkan.”

“Tapi kita sedang membicarakan tentang kucingmu—yang telah menjadi kucingku....”

“Berhentilah bicara! Suaramu membikin sakit telinga.”
Laki-laki itu melembutkan nada bicaranya. “Kau benar ingin pulang sekarang? Masih hujan. Atau begini saja... kita bertemu lagi besok? Kalau kau memang benar-benar ingin beristirahat sekarang. Aku akan meluangkan banyak waktu untukmu. Satu hari penuh waktuku untukmu. Lalu kita akan berbicara mengenai banyak hal. Juga mengenai—”

“Sepertinya, aku akan sangat sibuk besok.” Perempuan itu bangkit berdiri, menyaksikan reruntuhan air hujan dengan wajah sedikit cemas.

“Kau bisa menggunakan jaketku sebagai pelindung kepalamu dari hujan.”

“Tidak perlu.”

“Kau bisa demam.”

“Hanya demam!”

“Baiklah, aku akan menemanimu pulang.”

“Tidak perlu!“ Maja berlari menembus hujan menuju halte bus di bagian depan halaman perpustakaan.

“Kau bisa demam!“ seru Thomas. Tak terdengar sahutan dan tubuh itu segera kabur tertimpa deras air hujan. Gadis keras kepala dan suka merajuk. Sebenarnya Thomas menyukainya. Ia pikir setelah berhasil menyelesaikan tulisan minus kejadian Mozarella mati gepeng terlindas mobil, ia bisa mengutarakan perasaan. Kalau saja...

Tak lama Maja kembali dengan setengah basah dan napas terengah. “Hujannya deras sekali.”

Thomas melepas jaket dan meletakkan sebagai penutup kepalanya dan Maja. “Kita ke halte bus bersama-sama.”

“Jaketmu basah,” tahan Maja.

Thomas berhenti dan menoleh.

“Kau juga harus kehujanan. Maksudku, aku sudah kadung basah dan mungkin demam. Aku tidak mau masuk angin dan demam sendirian. Kau juga harus masuk angin dan demam. Lagipula kau, ‘kan, yang membikin kucingku mati!“

“Ya.” Thomas tersenyum lega dalam hati. “Tentu saja, ya. Aku akan mengantarmu pulang. Dan kehujanan, dan masuk angin, dan demam.“

Thomas menggandeng Maja erat berlari menembus hujan.

“Kau kedinginan?”

“Tidak, Aku kepanasan. Ini hanya basah karena keringat.”

“Mengenai kucing itu—”

“Kita bahas lagi besok!” []

0 comments: