Home » » Penulis Profesional ft. Penerbit Profesional

Penulis Profesional ft. Penerbit Profesional

Saat kamu memutuskan menjadi penulis profesional, ini pilihannya; bekerja sama dengan penerbit profesional yang memiliki editor cakap dan atau menerbitkan indie. Bekerja sama dengan sesama profesional akan 'meringankan' pekerjaanmu sebagai penulis. Mengapa demikian? Ketika masing-masing pihak sudah memahami apa job desk pekerjaannya, maka tidak ada lagi alasan ini itu baik dari pihak penulis atau pihak penerbit (pun editornya). Yang ada adalah bekerja sesuai dengan kesepakatan bersama. 

Penerbit Profesional

Di sini aku membicarakan tentang, tentu saja, penerbit mayor. Salah satu contoh penerbit mayor adalah Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan keluarga besarnya. Berikut adalah hal-hal yang akan lakukan padamu ketika kau sebagai penulis bekerja sama dengan mereka:

1. Memberi kabar naskah diterima/ditolak. 

Kepastian ini bisa cepat, bisa sangat lama. Antara 3 - 4 bulan sampai 3 tahun penantian. Bekerja sebagai penulis memang sebaiknya seperti orang berak, ketika rampung menulis dan mengirimkannya baik ke penerbit atau media massa koran atau majalah, segera lupakan untuk menulis lagi karya yang baru.

Kepastian diterima/ditolak akan disampaikan melalui surat pos, surel (email), dan juga telepon. Saat kau sibuk menulis naskah baru, tentu waktumu akan jauh lebih produktif dan menghasilkan ketimbang hanya menunggu kabar naskah yang sudah dikirim selang beberapa waktu lalu.

2. Memberi royalti dan kompensasi pasti.

Royalti yang akan diterima oleh penulis minimal adalah 10%. 'Keistimewaan' (baik hak dan kewajiban) penulis lain diatur dalam pasal-pasal dalam Surat Perjanjian Penerbitan. Pembayaran royalti juga dilakukan tepat waktu, tidak mundur, tidak menghilang begitu saja tanpa kabar, dan tidak merepotkan penulis. 

Penerbit yang baik akan selalu membayar royalti tepat waktu. Apabila ada keterlambatan mereka akan mengirimkan pemberitahuan. Apabila penulis mengalami kesulitan, mereka sigap merespons dan membantu. 

3. Komunikasi baik, terbuka dan transparan.

Terutama apabila ada hubungannya dengan pihak ketiga. Seperti misalnya; diterbitkan dalam bahasa asing, dialihmediumkan seperti FTV atau layar lebar, dan banyak hal lainnya. Penerbit yang baik tidak akan pernah beralasan kecolongan pihak PH televisi atau menyembunyikan surat kontrak perjanjian film layar lebar, atau memotong bayaran royalti film layar lebar penulis dengan dalih pajak (padahal di dalam film, pajak seluruhnya ditanggung oleh produser), dan tindakan-tindakan merugikan lainnya.

Penulis dan penerbit adalah partner atau rekan kerja yang setara. 

Editor Cakap

Salah satu kelebihan yang dimiliki oleh penerbit profesional adalah editor cakap. Peran editor di sini penting karena posisi ini yang akan 'mendampingi' penulis menghasilkan naskah yang apik dan siap diterbitkan. 

Editor itu kawan, bukan lawan. Seringkali aku mendengar kegusaran seorang penulis yang marah karena ada bagian tulisannya yang dihilangkan, beberapa bagian diganti, dan lain sebagainya. 

Penulis yang baik seharusnya bisa menjalin komunikasi yang baik dengan editor. Pun, ketika seorang editor sudah cakap, ia akan mengkomunikasikan bagaimana ia merevisi naskah si penulis. Editor yang baik tak akan mengacak-acak naskah, yaitu semena-mena mengganti tulisan si penulis menggunakan gaya tulisannya sendiri sehingga menghilangkan 'napas' atau gaya menulis si penulis. 

Dalam proses editing, komunikasi itu penting. Editor bisa menyampaikan bagian mana saja yang sekiranya perlu diganti, penulis bisa menyatakan keberatannya dan atau kesediaannya. Masukan-masukan dari dua pihak sangat penting untuk menghasilkan naskah siap terbit yang baik. 

Menerbitkan Buku Indie

Ketika menurutmu naskahmu jauh lebih baik apa adanya, kau ingin memiliki buku dengan kover dengan desain tertentu, dan ada nilai-nilai yang kau perjuangkan dan tak ingin 'dilibas' oleh penerbit, maka indie adalah satu-satunya jalan bagimu untuk menerbitkan buku. 

Tidak ada yang benar dan salah dalam menerbitkan buku. Baik di penerbit mayor maupun secara indie. Semua tergantung kebutuhan dan tujuan menulis si penulis. 

Cara Mengirim Naskah ke Gramedia


Untuk mengetahui penerbit mana saja yang bekerja sama dengan baik, dan juga memiliki editor yang cakap, kamu bisa bertanya dengan yang sudah berpengalaman. Cari tahu di penerbit mana saja banyak penulis 'kabur' dan banyak penulis yang terus bertahan bekerja sama menulis dengan penerbitnnya. Dan, mengenai bagaimana cara mengenai mengirim naskah ke Gramedia, sila klik tautan berikut ini

Mengenai alamat dan cara mengirim naskah penerbit yang lain, kau bisa memanfaatkan fasilitas Google (consider you never know the internet tool named Google). Atau, juga bisa mem-follow akun twitter penerbit yang bersangkutan. Tak jarang akun tersebut memberi tahu mengenai tata cara pengiriman naskah. 

Dan, mengapa aku tiba-tiba menulis postingan ini? Karena pagi tadi Facebook memunculkan memory enam tahun lalu, yaitu novel pertamaku Girl - Ism yang diterbitkan oleh Gramedia. Dan sampai sekarang aku masih bekerja sama dengan penerbit tersebut. [dps]

1 comments:

Untung Wahyudi said...

Kalo punya stok buku ini, aku pengin beli, Mbake.