Home » » Berbagi Pengalaman di IWEC Surabaya

Berbagi Pengalaman di IWEC Surabaya

Aku lahir di era tidak begitu banyak pilihan cara belajar, jurusan IPA jauh lebih mentereng ketimbang jurusan IPS (btw, aku jurusan IPA), menjadi PNS atau pegawai bank yang 'tak punya nama' jauh lebih menjanjikan ketimbang berprofesi sebagai penulis.

Jadi, saat sekarang di IWEC ini menyediakan fasilitas kelas menulis dan membaca sejak SD, aku senang sekali. Terlebih jika si anak kemudian didorong dan didukung menjadi penulis (penulis di sini tak harus selalu novelis, bisa saja esais, peneliti yang menulis jurnal, jurnalis, dan yang lain)

bersama Lalu Abdul Fatah dan Helene Jeane Koloway
foto oleh travelerien


Hai, ketemu lagi. Tanggal 2 Agustus 2015 kemarin aku berkesempatan menjadi pembicara bersama Fairuzhanun Razak dan dimoderatori oleh Lalu Abdul Fatah di acara Open Day IWEC Surabaya. Di blog ini aku rangkumkan secara singkat apa saja yang kami bicarakan.

Aku memiliki pengalaman membaca sejak balita. Ibu dan ayah selalu menyodorkan majalah yang aku eja dan baca sendiri satu persatu katanya. Saat TK nol kecil, aku sudah bisa membaca lancar. Saat SD, ibu selalu membawakanku setumpuk novel terjemahan yang dipinjamnya dari seorang teman yang memiliki toko buku bekas. Setelah seminggu, novel selesai atau tidak selesai aku baca dikembalikan,digantikan dengan setumpuk yang baru. Selain itu aku juga berlangganan majalah Bobo. Perpustakaan SD-ku (dari TK sampai SD aku bersekolah di ST. Bernardus) juga sangat luas, sangat banyak koleksi bukunya, dan bebas dipinjam. 

Itulah awal tumbuh kebiasaan membaca. 

Menulis dimulai saat SMP. Tiga novel tulis tangan berhasil aku selesaikan. Mendapat dua kali penghargaan untuk cerpen aku dapatkan saat kuliah dan terpilih menjadi Cerpenis Terpilih Balairung UGM. Menulis novel pertama tahun 2006, best seller, diterjemahkan ke Malaysia, di-FTV-kan, hingga kemudian dilayarlebarkan. Cerpen pertama kali dimuat di Koran Tempo pada tahun 2011, kemudian menyusul Jawa Pos, Media Indonesia, dan majalah Femina. [cerpen Desi Puspitasari bisa baca di sini] Ada juga di majalah Bobo dan beberapa yang lain. 

Bagaimana novel bisa difilmkan? Aku jelaskan juga namun juga bisa dibaca di sini

Bagaimana mencari ide? Apakah pernah stres saat menulis? Pernah bosan? Bagaimana mengatasi bosan? Apakah juga pernah writer's block?

Mencari ide itu mudah. Sangat mudah. Jawaban klise adalah dengan banyak membaca, mengamati, mendengarkan, keluar rumah, dan jeli. Untuk mengembangkan ide adalah dengan mengamati karya lain lalu dipecah-pecah; bagaimana susunan ceritanya (di sini aku bicara fiksi), bagaimana menyusun adegan, membikin karakter kuat, plot dan konflik yang baik, dan masih banyak hal.

Stres, bosan, dan writer's block (aku lebih senang menyebutnya kondisi terlalu letih menulis--bukan tidak bisa menulis) tentu pernah dan sering. Terutama saat menulis dengan tema serius. Caranya mengatasi dengan keluar rumah, bertemu teman, dan banyak hal. Sebisa mungkin menghindari yang berhubungan dengan menulis (meski sekarang ini aku tidak punya banyak pilihan lain kecuali terus menghadapi kebosanan dan terus saja menulis).

Atau mau menggunakan cara penulis lain? Yaitu dengan mendengarkan musik kesenangan, menyemprot parfum aroma kesukaan di dalam kamar, mandi berendam, minum anggur, dan masih banyak yang lain. Satu yang penting adalah ketika tulisan mampat, ide mandek, atau tidak bisa menulis, carilah cara supaya bagaimana bisa menulis kembali dan tak mampat lagi. Cara masing-masing orang berbeda.

Apa yang harus dilakukan sebagai penulis?

Jawaban klise lagi (tapi memang benar demikian): banyak membaca, banyak menulis, banyak memiliki teman (banyak memiliki teman atau bertemu orang baru akan memberimu banyak cara pandang baru dan merupakan sumber ide yang tak habis-habis).

Apa penting belajar sastra atau belajar menulis?

Penting. Karena, menulis adalah proses berpikir dan menyusun ulang. Proses belajar di sini digunakan melatih pola pikir supaya bisa lebih sistematis. 

Bila ada yang bilang; menulis itu mudah karena hanya tinggal mengkhayal, itu... mmm... bullshit. Hahaha. Menulis adalah proses meyakinkan pembaca bahwa cerita KHAYALAN (uhuk) itu benar. Untuk itu perlu menyusun plot, menentukan karakter, menciptakan konflik, melakukan riset, dan masih banyak hal yang lain. 

Tahu novel Jurassic Park oleh Michael Chrichton? Kalau hanya mengkhayal, apakah kemudian penggambaran mengenai berbagai macam spesies dinosaurus bisa sedetail itu?

Menulis di sini tak harus pekerjaan yang dilakukan novelis. Seorang profesor, seorang peneliti, ibu rumah tangga, koki, penyanyi, dan profesi lain akan lebih menguntungkan dan lebih baik ketika bisa menulis dengan baik, maka transfer ilmu pada profesi atau orang awam lain akan menyenangkan. Contoh yang paling mudah, dengan penjelasan baik yang dilakukan dengan penjelasan lisan pun melalui tulisan, ibu-ibu muda dan juga ibu-ibu di daerah terpencil jadi tahu bagaimana pentingnya pemberian ASI pada bayi. 

Penutup; tekunlah menulis dan berani. 

Penulis sama seperti profesi lainnya; berdarah-darah, sering mengalami hambatan, namun juga tak memungkiri apabila telah sukses dan berhasil hasilnya sangat manis. Jangan silau pada posisi dan keberhasilan penulis yang telah berhasil karena ada banyak sekali kesulitan dan hambatan yang sudah dilaluinya dalam diam (tidak mengeluh di media sosial). 

Chao. 



*IWEC singkatan dari Indonesia Writing Edu Center adalah sekolah menulis untuk anak SD hingga SMP yang berlokasi di Surabaya. Memiliki kurikulum menulis dan sering melakukan kunjungan ke luar sebagai salah satu bagian proses belajar menulis. Telah menerbitkan beberapa buku baik dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Selengkapnya klik saja IWEC Surabaya.

0 comments: