Home » » Sebagai Dosen Tamu Universitas Pasundan Bandung

Sebagai Dosen Tamu Universitas Pasundan Bandung

Been very busy lately. Seharusnya aku sudah mengapdet bagian ketiga tentang menulis setelah sebelum menulis bagian satu dan dua, ya. Tapi ketunda terus. Well, ufh. Hehe. Oke. Aku akan menulis bagian ketiga setelah berbagi cerita yang satu ini; pengalaman menjadi dosen tamu di kuliah umum mengenai menulis kreatif dan film di Universitas Pasundan, Bandung. I was so excited during the class!

14 Februari 2015 aku mengisi sebuah kuliah umum kepenulisan di Fakultas Sastra dan Film di Universitas Pasundan, Bandung.

Aku mulai mengisi kelas pukul sebelas pagi. Pertanyaan pertama yang diajukan oleh MC (yang juga merupakan pertanyaan jamak yang dilontarkan oleh orang-orang):

"Sekarang kesibukannya ngapain, Mbak?"

Penginnya sih menjawab; Sibuk dan sedang capek banget menggali sumur, Mbak. 

Atau, sedang sibuk dan serius sekali menempelkan satu demi satu biji wijen di permukaan bulat onde-onde. 

Atau, membikin pelet sebagai pakan ternak lele kolam belakang rumah. :P

Kesibukan apa lagi, sih, yang bisa dipunyai seorang penulis penuh waktu--yang menulis selain karena pekerjaannya begitu, juga lebih karena bertahan dan terus bersemangat karena itu passion-nya? Ya, tentu saja menulis.

Aku kemudian bercerita mengenai bagaimana awal mula menulis:

aku mulai membaca dari karya-karya sastra yang saat itu buatku sangat sulit dicerna dan dipahami. Tapi, aku keras kepala. Karena, buatku, keras kepalalah membaca atau melakoni atau mulai hal-hal dari yang sulit supaya terasa mudah di belakang (masa mendatang). 

hingga kemudian bagaimana perjuangan menyelesaikan novel romance THE STRAWBERRY SUPRISE yang notabene tidak memiliki cerita menye-menye tapi terpilih untuk difilmkan.

Rangkuman segala ceritaku yang panjang akan aku tuliskan versi singkatnya, begini:

Dua hal mengenai menulis:

Satu, ide ada di mana-mana. Bisa berasal dari pengalaman pribadi dan atau perihal-perihal di luar diri kita (pengalaman orang lain, curhatan teman, membaca koran, melihat kejadian, dan sebagainya). Tinggal kitanya saja, peka atau tidak menangkap hal 'halus' tersebut untuk kemudian dipilih, dipilah, kemudian dipadatkan menjadi satu cerita utuh.

Dua, Tidak bisa menulis karena lagi enggak punya mood itu ah-so-yesterday-problem. Karena, mood bisa diciptakan. Mandi (segarnya air bisa mancing ide kreatif banyak banget, lho, tapi ya jangan jadi keseringan mandi, nanti kamu kayak bulus), bersepeda, mendengarkan musik, menghirup parfum aroma favorit, dan masih banyak yang lain.

Satu hal mengenai passion (hal yang kita sukai, mengenai apapun itu): ikuti, tekuni, keras kepala perjuangkan, pertahankan, jangan pernah menyerah, dan protect passion-mu baik-baik.Tidak usah cemas, selama kamu serius dan bersungguh-sungguh, kesempatan baik akan datang sendiri dan bertubi-tubi.

Aku kemudian memberi tugas menulis pada para mahasiswa (iya, dong, menulis akan lebih lengkap bila dipraktikkan sekaligus). Tema besar yang kami, aku dan mahasiswa di kelas, setujui adalah cinta--bertepatan dengan hari Valentine, eh?  Aku menggunakan dua cara  untuk memancing ide: menggunakan musik dan gambar.

Hasilnya?

Percayalah, sepanjang kelas kami begitu bersenang-senang. Tak jarang, hasil tulisan mengagetkan; segar dan apaan, sih--dalam artian baik. Aku kira ini wajar; kami bisa bersenang-senang. Karena, aku well masih sebaya dengan para mahasiswa jurusan fotografi dan film yang masih 19-an tahun itu, yeah? Jadi, kitana mah asyik aja kitu. 


3 comments:

Jefry Dewangga said...

Wah hebat banget mbak bisa jadi dosen tamu gitu. Kalau jadi dosen tamu gitu banyak ceritanya apa banyak ngasih materi ya mbak? :D

hasil karya saya said...

Menjadi penulis tak pandang usia,meski tak lagi muda egp ni...baru tergerak belajar menulis...lumayan dimuat ...ni beranjak semangat belajar cerber femina.coba dan coba to yo resep sampeyan...

Desi Puspitasari said...

Sukses, ya. 🙂