Home » » Tips Menulis Cerita Anak

Tips Menulis Cerita Anak

Menulis cerita anak memiliki keasyikan tersendiri. Mudah-mudah sulit, sulit-sulit gampang. Sama halnya menulis cerpen remaja pun sastra, di dalam menulis cerita anak sebaiknya juga memiliki tema dan konflik tunggal. Yang sedikit membedakan cerita anak dengan cerpen sastra adalah cerita anak memiliki penyelesaian yang cenderung menyenangkan sekaligus disisipi pesan moral secara tersurat. 

Menyisipkan pesan moral secara tersurat tidak salah. Tapi untukku yang menikmati cerita Pippi Si Kaus Kaki Panjang-nya Astrid Lindgren dan beberapa buku dari Enyd Blyton, merasa muatan pesan moral itu membosankan. Karena, bandel, bising, kerap bikin onar, berkelahi, kabur, bermain sepuas-puasnya, berkemah dan makan di tempat terbuka itu rasanya asyik dan seru sekali. Sehingga ketika mendengar 'syarat' pesan moral pada cerita anak, akan muncul semacam perasaan... errrr. 

Tapi, well,  hidup memang mengenai perihal kompromi dan adaptasi. If you know what I mean. 


Ide Sehari-Hari

Ada banyak sekali permasalahan yang dihadapi anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Bagi kita orang dewasa, barangkali lupa mengerjakan tugas itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Tapi bagi bocah, lupa menggarap PR itu bisa berarti kiamat. 

Hal-hal sederhana seperti membereskan tempat tidur, rasa canggung murid pindahan di lingkungan sekolah baru, tidak punya uang untuk membeli seragam baru, cita-cita yang tidak umum (bocah laki-laki pada masa lalu bercita-cita menjadi chef atau perancang busana terdengar aneh), kekurangan fisik yang unik, kelebihan khas, dan masih banyak lainnya. 

Jejak Peri - Dongeng Majalah Bobo 2010

Bahkan untuk ide di dalam dongeng. Dongeng Jejak Peri yang pernah dimuat di majalah Bobo no. 38 Desember 2010, aku tulis dengan mengangkat permasalahan sehari-hari. Peri hitam yang mudah marah dan tidak punya teman. Ketika ia akhirnya tidak lagi bersungut-sungut, sudi tersenyum dan bersikap menyenangkan, jejak perinya muncul kilau. Tokohnya memang fantasi, namun permasalahannya tetap bisa ditemui dalam kehidupan bocah sehari-hari. 


Ringkas

Bocah itu senang pecicilan, jadi tulislah cerita yang pendek. 500 - 600 kata dengan font Arial ukuran 12 dan spasi dobel itu sekitar 3 - 4 halaman kuarto. Jumlah halaman yang terbatas 'memaksa' kita menulis secara ringkas dan padat. Pergunakan kalimat sederhana, pendek, dan lugas. 

Meski tidak menampik juga, bocah zaman sekarang bisa betah membaca Harry Potter yang berjumlah ratusan halaman. 


Alur Sederhana Tanpa Melupakan Konflik

Pergunakan tangga dramatik yang kerap digunakan dalam menulis cerita. Pembukaan/perkenalan - konflik - penyelesaian. Tentu saja, tokoh utama di sini tetap anak-anak dengan pola pikir dan nalar seorang bocah. 

Penggunaan alur sederhana ini cenderung alur maju. Flashback atau bolak-balik memiliki potensi membingungkan pembaca mungil kita. Boleh saja menggunakan alur maju-mundur, sih, tapi tetap dengan menimbang kemampuan si bocah.


Tokoh Unik

Pippi Si Kaus Kaki Panjang jelas-jelas merupakan karakter unik. Rambutnya merah (namun di kover sering tampak oranye), dikepang dua, mukanya berbintik-bintik. sepatunya kebesaran, tinggal sendiri di rumah dengan sekoper penuh uang emas. Dan bebas melakukan apa saja; tidur terlambat, sarapan membikin pancake sendiri, dan berbohong.

Hal-hal semacam ini tentu akan membikin anak-anak mengiler bukan main. Sebuah kebebasan bocah yang tak mungkin mereka dapatkan. Contoh karakter unik lain yang tak kalah kuat adalah George atau Georgina Lima Sekawan. Remaja perempuan tomboi yang memiliki anjing bernama Timmy.

Tokoh unik ini berpotensi menarik minat dan rasa keingintahuan bocah, yang cenderung selalu ingin tahu terhadap hal-hal baru dan terutama yang aneh.


Audio - Visual

Dalam cerita anak, cericit burung bisa dituliskan. Seperti demikian; cuiit cuiit cuiit. Derum mobil dengan bremm bremm bremmm. Tuliskan apa yang sekiranya bisa mendukung imajinasi seorang anak ketika membaca atau dibacakan cerita. Hal ini selain untuk merangsang ketertarikan, tentu juga untuk membangun dan mengembangkan daya imaji mereka. 

Begitu pula untuk penggambaran visual. Pergunakan keterangan dengan seefektif mungkin. Keterangan singkat, namun mudah segera ditangkap oleh imajinasi si anak. Hindari penjelasan bertele-tele.


Pesan Moral

Sebaiknya pesan moral tidak disampaikan secara verbal. Seperti misalnya; mencuri itu berdosa, berbohong itu tidak baik, buanglah sampah pada tempatnya, dan lain-lain. Barangkali memang tidak apa-apa dan tidak ada salahnya ketika sebuah nasihat atau ajaran disampaikan secara tersurat. Tapi, memberi kesempatan si bocah untuk berpikir dan menyimpulkan sendiri jauh lebih baik. Bocah akan tumbuh nalar berpikir, doyan berdiskusi, dan yang paling penting adalah... tidak dicekoki. 

Well, ini bukan keharusan. Pergunakan kemungkinan-kemungkinan untuk menghasilkan karya cerita anak yang baik, tentu saja.


Mengirim Cerita Anak

Apabila ingin mengirim cerita anak atau dongeng ke Majalan Bobo, berikut persyaratannya:

1. Panjang cerita anak atau dongeng kurang lebih 500 - 600 kata, 3 - 4 halaman A4, diketik spasi dobel.

2. Kirim melalui surel: naskahbobo@gramedia-majalah.com

0 comments: